Syair gending Jawa itu unik

Syair gending Jawa selalu terucap tembang-tembang yang di alunkan pesinden/seniwati maupun penggerong pada sebuah musik karawitan. Syair ini berbahasa Jawa dan bahasa Kawi yang unik dan mengandung pesan atau nasihat untuk hidup yang damai sejahtera di dunia ini. Syair-syair tiap gending berbeda-beda, mulai dair gending gedhe, ladrang, ketawang maupun tembang dolanan. Masing-masing mengandung makna dan tersendiri yang disampaikan penciptanya lewat syair tersebut.

Namun sayangnya karena pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat syair Jawa tak lagi menarik bagi mereka. Selain itu banyak faktor internal dan eksternal yang membuat mereka tidak tertarik lagi dengan syair dan gending-gending Jawa. Selain itu, penampilan pengrawit yang menggunakan pakaian kejawen tampak kuno yang mungkin membuat mereka berfikir lucu, tidak menarik, dan tidak mendunia alais lokalan.

Saya sendiri terkadang tersenyum, kata siapa karawitan tidak mendunia. Di Amerika Serikat saja telah tercatat lebih dari 250 group karawitan. Group tersebut dikelola oleh orang asli Amerika, dengan mendatangkan gamelan dari Jawa Tengah. Untuk pembelajaran menabuh maupun vokal ada yang menempuh pendidikan di ISI Surakarta ataupun mendatangkan sendiri secara private dari pengrawit Jawa yang menguasai karawitan.

Kembali pada pokok bahasan di atas. Mengapa syair Jawa itu unik? Seperti telah disinggung di atas, syair gending Jawa menggunakan bahasa Jawa dan Kawi yang untuk saat ini terkadang sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Padahal syair-syair tersebut banyak mengandung tuntunan dan nasehat dari para wali dan sesepuh kita tentang kehidupan.

Syair Jawa jika didengarkan secara seksama terkesan seperti mantra. Iya tidak? Coba anda dengarkan dengan seksama kala waktu sepi, misal tengah malam. Mengepa demikian, karena bahasanya unik, tidak gampang dimengerti oleh sembarang orang, makanya terdengar seperti mantra. Andaikan bahasa yang digunakan bahasa Indonesia tentunya tidak lagi terdengar seperti mantra, tetapi seperti orang bercerita. Betul bukan?


Print Friendly and PDF